PENGANTAR
FILSAFAT PENDIDIKAN
Dua
kriteria Pokok Filsafat :
- Kegiatan berfikir mencari kebenaran
- Kebenaran yang dicari itu berdimensi
sedalam-dalamnya,
setinggi-tingginya,
seluas-luasnya,
selengkap-lengkapnya,
setuntas-tuntasnya
Berfilsafat berarti berpikir reflektif untuk
memperoleh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan mendasar (radikal) dan universal.
Jawaban tsb disusun secara
sistematis, diuji secara kritis dan terbuka untuk memperoleh kebenaran yang
sesungguhnya (hakiki). Jawaban terhadap persoalan biasanya tidak pernah
selesai, tidak pernah sempurna.
Filsafat bertumpu pada kemampuan nalar/rasio manusia.
Kebenaran hakiki yang dicari adalah sejauh yang dapat dijangkau oleh akal
manusia Sebagai kegiatan berpikir, filsafat menghasilkan gambaran pemikiran
secara menyeluruh dan komprehensif. Pemikiran filsafat bersifat spekulatif,
artinya merenung, memikirkan sesuatu sedalam dalamnya, tanpa keharusan ada
kontak langsung dengan objek yang dipikirkan.
Ada jenis filsafat :
1.Filsafat
spekulatif
Filsafat spekulatif adalah cara berfikir sistematis
tentang segala yang ada, merenungkan secara rasional-spekulatif seluruh
persoalan manusia dengan segala yang ada di jagat raya ini dengan asumsi
manusia memiliki kekuatan intelektual yang sangat tinggi dan berusaha mencari
dan menemukan hubungan dalam keseluruhan alam.
2.Filsafat
preskriptif
Filsafat
preskriptif berusaha untuk menghasilkan suatu ukuran (standar) penilaian
tentang nilai-nilai, penilaian tentang perbuatan manusia, penilaian tentang
seni, menguji apa yang disebut baik dan jahat, benar dan salah, bagus dan
jelek. Nilai suatu benda pada dasarnya inherent dalam dirinya, atau hanya
merupakan gambaran dari fikiran kita. Dalam konteks pendidikan, filsafat
preskriptif memberi resep tentang perbuatan atau perilaku manusia yang
bermanfaat.
3.Filsafat analitik
Filsafat analitik memusatkan pemikirannya pada
kata-kata, istilah-istilah, dan pengertian-pengertian dalam bahasa, menguji
suatu ide atau gagasan untuk menjernihkan dan menjelaskan istilah-istilah yang
dipergunakan secara hati-hati dan cenderung untuk tidak membangun suatu mazhab
dalam sistem berfikir.
Filsafat pendidikan
·
Menginspirasi,
yang dapat diartikan mampu memberikan inspirasi bagi para pendidik untuk
menjalankan berbagai ide dalam pengembangan pendidikan.
·
Menganalisis,
yang dapat diartikan mampu memeriksa secara detail setiap bagian dari
pendidikan hingga validitas dari pendidikan itu sendiri dapat diketahui secara
jelas.
·
Memperspektifkan,
yaitu mengenai upaya memberi pengarahan dan penjelasan kepada pendidik mengenai
pendidikan secara lebih luas dan mendalam.
·
Menginvestigasi,
yaitu meneliti dan memeriksa tingkat kebenaran dari berbagai teori yang ada di
dunia pendidikan.
Kajian Filsafat Pendidikan
1.
Hakikat
manusia ideal sebagai acuan pokok bagi pengembangan dan penyempunaan.
2.
Pendidikan
dan nilai-nilai yang dianut sebagai suatu landasan berpikir dan mempengaruhi
tatanan hidup suatu masyarakat.
3.
Tujuan
pendidikan sebagai arah pengembangan model pendidikan.
4.
Relasi
antara pendidik dan peserta didik sebagai subjek dan subjek.
5.
Pemahaman
dan pelaksanaan kurikulum dalam pendidikan.
6.
Metode
dan strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi peserta didik.
7.
Hubungan antara
lembaga pendidikan dengan tatanan masyarakat dan organisasi serta situasi
sosial sekitar.
8.
Nilai dan
pengetahuan sebagai aspek penting dalam pengajaran.
9.
Kaitan antara
pendidikan dengan kelas sosial dan kenaikan taraf hidup masyarakat.
10.
Aliran-aliran
filsafat yang dapat memberikan solusi atas masalah pendidikan.
1.
Filsafat idealisme
·
Realitas sebagai nonmaterial (moral)
·
Kehidupan yang ideal spt yang
dibayangkan Plato merupakan masyarakat atau republik yang dipimpin seorang
filsuf.
·
Hubungan guru dan murid harus
mandasarkan sesuatu yang absolut ke arah kebajikan, kebenaran, dan keindahan.
·
Idealisme melahirkan teori Pendidikan
Esensialisme
·
Manusia adalah makhluk budaya, sehingga
sumber yang absolut berasal dari budaya.
·
Mengarahkan siswa untuk mempertahankan
norma-norma yang ada dalam budaya.
·
Plato mengilhamkan suatu macam
pendidikan moral yang menjadikan tanggung jawab warganegara dan untuk
masyarakat.
·
Menekankan pentingnya pewarisan budaya
dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat
menjadi anggota masyarakat yang berguna.
·
Matematika, sains dan mata pelajaran
lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk
hidup di masyarakat.
·
Essesialisme lebih berorientasi pada masa lalu.
2.
Filsafat realisme
· Melihat
dunia sebagai obyek yang nyata.
· Pengenalan
thd dunia yang nyata melalui informasi dunia objek kepada perbuatan.
· Orientasi
ini digagas oleh Aristoteles, Al-Kindi, dan Al-Farabi
· Manusia
belajar melalui inderanya.
· Pengembangan
kepada manusia lebih ditekankan berpikir
rasional, fungsi sekolah untuk transfer bodies of knowledge dan
keterampilan inquiry dari siswa.
3.
Filsafat thomisme
· Keyakinan
agama dan rasio sebagai komplementer sumber kebenaran.
· Thomisme
identik dengan Katolik Roma, dan dikembangkan saintis Thomas Aquinas,
selanjutnya melahirkan teori pendidikan Perennialisme yang dikembangkan Robert
Hutchins.
Teori
perenialisme
• Bahwa untuk mengembalikan keadaan kacau balau seperti
sekarang ini, jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada prinsip-prinsip
umum yang telah teruji.
• Bahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual,
sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat
dipandang baik
• Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas
paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato)
• Perkembangan budi merupakan titik pusat perhatian
pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles)
• Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang
masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas)
Perenialisme
Perenialisme
lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada
warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting
dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham
ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat
pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
4.
Filsafat pragmatisme
· Sebuah
filosofi yang metode pendefinisian kebenaran dan makna ide-ide disesuaikan pada
konskuensi fisikal dan bernilai praktis.
· Dewey
: “man
lives in an uncertain world which is often hostile to his survival. In his
mind, man seeks to create a concept of certainty which gives him a feeling of
permanence and security”.
· Pragmatisme
melihat dunia bukan di dalam keadaan statis tetapi didalam keadaan yang
terus-menerus berubah.
5.
Filsafat Eksistensialisme
· Filosofi
yang menekankan subjektivitas dari pengalaman manusia dan keutamaan
kreativitas, serta pilihan dalam dunia yang nonrasional.
· Prioritas
individu untuk menghargai akan eksistensi human ini sebagai reaksi terhadap
krisis dari masyarakat abad dua buluh. Sebelum abad ini timbulnya
industrialsasi berimbas pada pandangan berpikir spt halnya di dunia industri.
Logika seperti mesin, yg utama efisiensi, standar yang sama, mengabaikan
kebermaknaan individu sebagai pribadi.
Pandangan
Eksistensialisme tentang pendidikan
• Penanaman “intensity of awareness” pada pelajar.
Maksudnya siswa disadarkan bahwa mereka sebagai individu yang konstan, bebas,
dan kreatif memilih. Siswa memiliki kesadaran untuk mengenal tanggung jawabnya
untuk menentukan keinginan hidupnya sesuai yang kehidupan yang dimiliki dan
menciptakan penentuan diri sendiri.
• Pendidikan harus benar-benar human, hal
tersebut harus membangkitkan pembelajar kesadaran eksistensi dirinya sendiri
sebagai subjek tunggal yang hadir di dunia.
6.
Filsafat Progressivisme
· Progresivisme
memandang segala sesuatu itu ke depan. Semua yang ada di belakang merupakan
catatan-catatan yang berguna untuk
dipelajari dan saat dibutuhkan dapat ditampilkan dalam konteks sekarang.
Dengan menghargai peran manusia itulah maka manusia dipandang sebagai makhluk
yang serba dinamis dan kreatif. Dengan demikian, pada dasarnya manusia adalah
makhluk yang memiliki kebebasan.
Semua ini penting demi kemajuan yang terus diperlukan oleh manusia itu sendiri.
· Pestalozzi
mengatakan: “ who as a willing discipline of Rousseau, asserted that
education should be more than book learning. It should embrace the whole
child—his emotions, intellect, and body. Natural education, said Pestalozzi,
should take place in an environment of emotional love and security. It should
also begin in child’s immediate environment and involve the operations of the
objects found in the environment.
· “The
whole personality which had to be educated”. Alam membentuk anak sebagai
suatu keseluruhan yang tidak terpisahkan, sebagai suatu organ vital dengan
banyak aspek kapasitas: moral, mental, dan fisik. Alam menghendaki tidak ada
aspek-aspek kapasitas ini yang tidak dikembangkan. Dimana alam telah mempengaruhi
anak, dan juga membimbing anak,alam juga mengembangkan hati,pikiran, dan fisik
anak dalam kesatuan yang harmoni.
Implikasi
filosofi progressivisme
• Berakar
dari pragmatisme dan eksistensialisme
• Melahirkan
teori pendidikan rekonstruksionisme dan humanisme.
• Humanisme,
fokus pendidikan yang
berpandangan humanis terletak pada membantu siswa menjadi “humanized”
atau “self-actualized”.
• Jadi, memanusiakan dan mengaktualisasikan seluruh
kepribadian siswa merupakan fokus pendidikan yang berpandangan humanis.
• Tujuan yang dicapai bagi siswa dalam pandangan
pendidikan yang humanis adalah “self-actualization rather than a mastery of
knowledge as an end in itself”. Fokus
aktualisasi kepribadian siswa.
• Tidak ada teori realita yang umum.
• Pengalaman bersifat dinamis dan temporal;
• Tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta
pluralistis.
• Nilai berkembang terus karena adanya
pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan
dalam kehudayaan.
• Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan
sosial yang sangat kompleks.
• Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang
eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan
kebutuhan.
Prinsip-prinsip Progresivisme :
(a) anak harus bebas untuk dapat berkembang secara wajar,
(b) pengalaman langsung merupakan cara terbaik untuk
merangsang minat belajar,
(c) guru harus menjadi seorang peneliti dan membimbing
kegiatan belajar,
(d) sekolah progresif harus merupakan suatu laboratorium
untuk melakukan reformasi pedagogis dan ekperimentasi.
Progresivisme
Menekankan pada pentingnya melayani
perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar
dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta
didik aktif.
Rekonstruktivisme
Merupakan elaborasi
lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia
masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan
individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan
tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan
mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan
sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.
7. PostModern
· Postmodern
sering disebut dengan Postmo
· Sesudah
zaman modern
· Reaksi
penolakan terhadap faham modern, karena modern dipandang serba universal,
menekankan rasio, ekonomi kapitalistik, efisiensi, efektivitas, menekankan
kegunaan ilmu dan teknologi, individualistik dipentingkan, dan identitas tetap.
Paham postModern
1. Mencari
alternatif-alternatif modernitas
2. Manusia
bukan hanya rasio ,ada
yang melampaui
rasionalitas yang
disebut sebagai “the
Sublime” maksudnya masih ada sumber-sumber
yang menghasilkan keunikan luar biasa,multikultural, alternatif, dan identitas
lentur/floating.
3. Pendidikan
untuk mengembangkan kemampuan kritis untuk menjawab tantangan dan
mentransformasikan kondisi sosial dan politik.
Hubungan Filsafat dan
Pendidikan
a. Hubungan keharusan
Berfilsafat berarti mencari nilai-nilai ideal
(citacita) yang lebih baik, sedangkan pendidikan mengaktualisasikan nilai-nilai
ini dalam kehidupan manusia.
Pendidikan bertindak mencari arah yang terbaik, dengan
berbekal teori-teori pendidikan yg diberikan antara lain oleh pemikiran
filsafat .
b. Dasar Pendidikan
Filsafat mengadakan tinjauan yang luas terhadap
realita termasuk manusia, maka dibahaslah antara lain pandangan dunia dan
pandangan hidup. Konsep-konsep ini selanjutnya menjadi dasar atau landasan
penyusunan tujuan dan metodologi pendidikan. Sebaliknya pengalaman pendidik
dalam realita menjadi masukan dan pertimbangan bagi filsafat utk mengembangkan
pemikiran pendidikan.
Filsafat memberi dasar-dasar dan nilai-nilai yang sifatnya das Sollen
(yang seharusnya)
Praksis pendidikan mengimplementasikan dasar-dasar
tersebut, tetapi juga memberi masukan dari realita terhadap pemikiran ideal
pendidikan dan manusia.
Jadi, ada hubungan timbal balik di antara keduanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar