Jumat, 07 Desember 2018

PENGANTAR FILSAFAT PENDIDIKAN


PENGANTAR FILSAFAT PENDIDIKAN
Dua kriteria Pokok Filsafat :
  1. Kegiatan berfikir mencari kebenaran
  2. Kebenaran yang dicari  itu berdimensi 
            sedalam-dalamnya,
            setinggi-tingginya,
            seluas-luasnya,
            selengkap-lengkapnya,
            setuntas-tuntasnya
Berfilsafat berarti berpikir reflektif untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan mendasar (radikal) dan universal. Jawaban tsb disusun secara sistematis, diuji secara kritis dan terbuka untuk memperoleh kebenaran yang sesungguhnya (hakiki). Jawaban terhadap persoalan biasanya tidak pernah selesai, tidak pernah sempurna.
Filsafat bertumpu pada kemampuan nalar/rasio manusia. Kebenaran hakiki yang dicari adalah sejauh yang dapat dijangkau oleh akal manusia Sebagai kegiatan berpikir, filsafat menghasilkan gambaran pemikiran secara menyeluruh dan komprehensif. Pemikiran filsafat bersifat spekulatif, artinya merenung, memikirkan sesuatu sedalam dalamnya, tanpa keharusan ada kontak langsung dengan objek yang dipikirkan.
Ada jenis filsafat :
1.Filsafat spekulatif
Filsafat spekulatif adalah cara berfikir sistematis tentang segala yang ada, merenungkan secara rasional-spekulatif seluruh persoalan manusia dengan segala yang ada di jagat raya ini dengan asumsi manusia memiliki kekuatan intelektual yang sangat tinggi dan berusaha mencari dan menemukan hubungan dalam keseluruhan alam.

2.Filsafat preskriptif
            Filsafat preskriptif berusaha untuk menghasilkan suatu ukuran (standar) penilaian tentang nilai-nilai, penilaian tentang perbuatan manusia, penilaian tentang seni, menguji apa yang disebut baik dan jahat, benar dan salah, bagus dan jelek. Nilai suatu benda pada dasarnya inherent dalam dirinya, atau hanya merupakan gambaran dari fikiran kita. Dalam konteks pendidikan, filsafat preskriptif memberi resep tentang perbuatan atau perilaku manusia yang bermanfaat.
3.Filsafat analitik
Filsafat analitik memusatkan pemikirannya pada kata-kata, istilah-istilah, dan pengertian-pengertian dalam bahasa, menguji suatu ide atau gagasan untuk menjernihkan dan menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan secara hati-hati dan cenderung untuk tidak membangun suatu mazhab dalam sistem berfikir.
Filsafat pendidikan
·           Menginspirasi, yang dapat diartikan mampu memberikan inspirasi bagi para pendidik untuk menjalankan berbagai ide dalam pengembangan pendidikan.
·           Menganalisis, yang dapat diartikan mampu memeriksa secara detail setiap bagian dari pendidikan hingga validitas dari pendidikan itu sendiri dapat diketahui secara jelas.
·           Memperspektifkan, yaitu mengenai upaya memberi pengarahan dan penjelasan kepada pendidik mengenai pendidikan secara lebih luas dan mendalam.
·           Menginvestigasi, yaitu meneliti dan memeriksa tingkat kebenaran dari berbagai teori yang ada di dunia pendidikan.
Kajian Filsafat Pendidikan
1.        Hakikat manusia ideal sebagai acuan pokok bagi pengembangan dan penyempunaan.
2.        Pendidikan dan nilai-nilai yang dianut sebagai suatu landasan berpikir dan mempengaruhi tatanan hidup suatu masyarakat.
3.        Tujuan pendidikan sebagai arah pengembangan model pendidikan.
4.        Relasi antara pendidik dan peserta didik sebagai subjek dan subjek.
5.        Pemahaman dan pelaksanaan kurikulum dalam pendidikan.
6.        Metode dan strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi peserta didik.
7.  Hubungan antara lembaga pendidikan dengan tatanan masyarakat dan organisasi serta situasi sosial sekitar.
8.   Nilai dan pengetahuan sebagai aspek penting dalam pengajaran.
9.   Kaitan antara pendidikan dengan kelas sosial dan kenaikan taraf hidup masyarakat.
10.  Aliran-aliran filsafat yang dapat memberikan solusi atas masalah pendidikan.

1.        Filsafat idealisme
·         Realitas sebagai nonmaterial (moral)
·         Kehidupan yang ideal spt yang dibayangkan Plato merupakan masyarakat atau republik yang dipimpin seorang filsuf.
·         Hubungan guru dan murid harus mandasarkan sesuatu yang absolut ke arah kebajikan, kebenaran, dan keindahan.
·         Idealisme melahirkan teori Pendidikan Esensialisme
·         Manusia adalah makhluk budaya, sehingga sumber yang absolut berasal dari budaya.
·         Mengarahkan siswa untuk mempertahankan norma-norma yang ada dalam budaya.
·         Plato mengilhamkan suatu macam pendidikan moral yang menjadikan tanggung jawab warganegara dan untuk masyarakat.
·         Menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna.
·         Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat.
·         Essesialisme lebih berorientasi pada masa lalu.

2.        Filsafat realisme
·      Melihat dunia sebagai obyek yang nyata.
·      Pengenalan thd dunia yang nyata melalui informasi dunia objek kepada perbuatan.
·      Orientasi ini digagas oleh Aristoteles, Al-Kindi, dan Al-Farabi
·      Manusia belajar melalui inderanya.
·      Pengembangan kepada manusia lebih ditekankan  berpikir rasional, fungsi sekolah untuk transfer bodies of knowledge dan keterampilan inquiry dari siswa.

3.        Filsafat thomisme
·      Keyakinan agama dan rasio sebagai komplementer sumber kebenaran.
·      Thomisme identik dengan Katolik Roma, dan dikembangkan saintis Thomas Aquinas, selanjutnya melahirkan teori pendidikan Perennialisme yang dikembangkan Robert Hutchins.
Teori perenialisme
      Bahwa untuk mengembalikan keadaan kacau balau seperti sekarang ini, jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada prinsip-prinsip umum yang telah teruji.
      Bahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat dipandang baik
      Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato)
      Perkembangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles)
      Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas)
Perenialisme
Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
4.        Filsafat pragmatisme
·      Sebuah filosofi yang metode pendefinisian kebenaran dan makna ide-ide disesuaikan pada konskuensi fisikal dan bernilai praktis.
·      Dewey : man lives in an uncertain world which is often hostile to his survival. In his mind, man seeks to create a concept of certainty which gives him a feeling of permanence and security”.
·      Pragmatisme melihat dunia bukan di dalam keadaan statis tetapi didalam keadaan yang terus-menerus berubah.

5.        Filsafat Eksistensialisme
·      Filosofi yang menekankan subjektivitas dari pengalaman manusia dan keutamaan kreativitas, serta pilihan dalam dunia yang nonrasional.
·      Prioritas individu untuk menghargai akan eksistensi human ini sebagai reaksi terhadap krisis dari masyarakat abad dua buluh. Sebelum abad ini timbulnya industrialsasi berimbas pada pandangan berpikir spt halnya di dunia industri. Logika seperti mesin, yg utama efisiensi, standar yang sama, mengabaikan kebermaknaan individu sebagai pribadi.
Pandangan Eksistensialisme tentang pendidikan
      Penanaman “intensity of awareness” pada pelajar. Maksudnya siswa disadarkan bahwa mereka sebagai individu yang konstan, bebas, dan kreatif memilih. Siswa memiliki kesadaran untuk mengenal tanggung jawabnya untuk menentukan keinginan hidupnya sesuai yang kehidupan yang dimiliki dan menciptakan penentuan diri sendiri.
      Pendidikan harus benar-benar human, hal tersebut harus membangkitkan pembelajar kesadaran eksistensi dirinya sendiri sebagai subjek tunggal yang hadir di dunia.

6.        Filsafat Progressivisme
·      Progresivisme memandang segala sesuatu itu ke depan. Semua yang ada di belakang merupakan catatan-catatan yang berguna untuk  dipelajari dan saat dibutuhkan dapat ditampilkan dalam konteks sekarang. Dengan menghargai peran manusia itulah maka manusia dipandang sebagai makhluk yang serba dinamis dan kreatif. Dengan demikian, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan. Semua ini penting demi kemajuan yang terus diperlukan oleh manusia itu sendiri.
·      Pestalozzi mengatakan: “ who as a willing discipline of Rousseau, asserted that education should be more than book learning. It should embrace the whole child—his emotions, intellect, and body. Natural education, said Pestalozzi, should take place in an environment of emotional love and security. It should also begin in child’s immediate environment and involve the operations of the objects found in the environment.
·      The whole personality which had to be educated”. Alam membentuk anak sebagai suatu keseluruhan yang tidak terpisahkan, sebagai suatu organ vital dengan banyak aspek kapasitas: moral, mental, dan fisik. Alam menghendaki tidak ada aspek-aspek kapasitas ini yang tidak dikembangkan. Dimana alam telah mempengaruhi anak, dan juga membimbing anak,alam juga mengembangkan hati,pikiran, dan fisik anak dalam kesatuan yang harmoni.
Implikasi filosofi progressivisme
      Berakar dari pragmatisme dan eksistensialisme
      Melahirkan teori pendidikan rekonstruksionisme dan humanisme.
      Humanisme, fokus pendidikan yang berpandangan humanis terletak pada membantu siswa menjadi “humanized” atau “self-actualized”.
      Jadi, memanusiakan dan mengaktualisasikan seluruh kepribadian siswa merupakan fokus pendidikan yang berpandangan humanis.
      Tujuan yang dicapai bagi siswa dalam pandangan pendidikan yang humanis adalah “self-actualization rather than a mastery of knowledge as an end in itself. Fokus aktualisasi  kepribadian siswa.
      Tidak ada teori realita yang umum.
      Pengalaman bersifat dinamis dan temporal;
      Tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis.
      Nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan.
      Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. 
      Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Prinsip-prinsip Progresivisme :
(a)   anak harus bebas untuk dapat berkembang secara wajar,
(b)   pengalaman langsung merupakan cara terbaik untuk merangsang minat belajar,
(c)   guru harus menjadi seorang peneliti dan membimbing kegiatan belajar,
(d)  sekolah progresif harus merupakan suatu laboratorium untuk melakukan reformasi pedagogis dan ekperimentasi.
Progresivisme
       Menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
Rekonstruktivisme
       Merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.
7.    PostModern
·      Postmodern sering disebut dengan Postmo
·      Sesudah zaman modern
·      Reaksi penolakan terhadap faham modern, karena modern dipandang serba universal, menekankan rasio, ekonomi kapitalistik, efisiensi, efektivitas, menekankan kegunaan ilmu dan teknologi, individualistik dipentingkan, dan identitas tetap.
Paham postModern
1.      Mencari alternatif-alternatif modernitas
2.      Manusia bukan hanya rasio ,ada yang melampaui rasionalitas yang disebut sebagai “the Sublime” maksudnya masih ada sumber-sumber yang menghasilkan keunikan luar biasa,multikultural, alternatif, dan identitas lentur/floating.
3.      Pendidikan untuk mengembangkan kemampuan kritis untuk menjawab tantangan dan mentransformasikan kondisi sosial dan politik.
Hubungan Filsafat dan Pendidikan
a.    Hubungan keharusan
       Berfilsafat berarti mencari nilai-nilai ideal (citacita) yang lebih baik, sedangkan pendidikan mengaktualisasikan nilai-nilai ini dalam kehidupan manusia.
Pendidikan bertindak mencari arah yang terbaik, dengan berbekal teori-teori pendidikan yg diberikan antara lain oleh pemikiran filsafat .
b. Dasar Pendidikan
       Filsafat mengadakan tinjauan yang luas terhadap realita termasuk manusia, maka dibahaslah antara lain pandangan dunia dan pandangan hidup. Konsep-konsep ini selanjutnya menjadi dasar atau landasan penyusunan tujuan dan metodologi pendidikan. Sebaliknya pengalaman pendidik dalam realita menjadi masukan dan pertimbangan bagi filsafat utk mengembangkan pemikiran pendidikan.
       Filsafat memberi dasar-dasar dan nilai-nilai yang sifatnya das Sollen (yang seharusnya)
Praksis pendidikan mengimplementasikan dasar-dasar tersebut, tetapi juga memberi masukan dari realita terhadap pemikiran ideal pendidikan dan manusia.
Jadi, ada hubungan timbal balik di antara keduanya.




                                                                                                  




                                                                              







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN

DASAR-DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN Pengertian Pengelolaan pendidikan   Pengelolaan pendidikan dapat diartikan sebagai upaya untuk mene...